Assalamualaikum.....
Saat membaca judul ini, mungkin ada diantara teman-teman yang bertanya-tanya..."apa sih kerajaan tubuh"?
Pengertian ini sebenarnya timbul dari rasa ingin tahu saya tentang tugas manusia dimuka bumi sebagai Khalifatullah fil ardhy yang sering diartikan sebagai pemimpin dimuka bumi.
Kemudian saya bertanya-tanya,jika saya tidak berhasil menjadi pemimpin (presiden, gubernur, bupati, walikota, camat, dsb)apa saya tetap menjalankan tugas yang diperintahkan?
Jawabannya perintah harus tetap dijalankan...karena kelak kita akan berkeluarga, disitu ada suami/istri dan anak-anak yg bisa kita pimpin
Baiklah, pertanyaan selanjutnya, bagaimana jika takdir menyatakan bahwa seseorang akan mati sebelum sempat menikah, apakah tugas masih harus dijalankan?
Jawabannya perintah tetap harus dijalankan..karena manusia harus memimpin dirinya sendiri
Apa teman-teman sudah melihat ada kaitannya?kalau belum, maka akan saya lanjutkan..
Kemudian waktu itu saya iseng-iseng berburu di internet untuk menjawab pertanyaan saya tentang memimpin diri sendiri dan berikut adalah penjelasan saya dari pencarian saya selama ini
Selama ini ternyata banyak orang yang tersesat pada pengertiannya sendiri bahwa yang diberi tugas sebagai Khalifatullah fil ardhy adalah raga ini padahal yang diserahi tugas oleh Allah adalah ruh kita yang kemudian ditiupkan pada jasad kasar kita.Tubuh hanyalah sarana,karena nanti tubuh akan mati dan yang kembali menghadap Sang Maha Segalanya adalah ruh kita
Jadi,Allah memberikan pada masing-masing ruh sebuah kerajaan untuk dikelola dengan baik.kerajaan itu bernama kerajaan tubuh/raga.
Di dalam kerajaan tubuh juga terdapat susunan aparat pemerintahan sebagai berikut:
1.Ruh/Jiwa sebagai Pemimpin
2.Otak/akal pikiran sebagai maha patih/perdana menteri
3.Hati sebagai menteri
4.Mulut sebagai juru bicara kerajaan
5.Mata dan telinga sebagai badan intelijen
6.Tangan dan kaki sebagai prajurit beserta patih-patihnya
7.Darah,tulang,urat dsb sebagai rakyat di negeri kerajaan
Ketika susunan tersebut telah kita ketahui maka mulailah untuk mendengarkan apa yang diperintahkan oleh jiwa kita.Awalnya saya sangat kesulitan karena kerajaan tubuh sedang dikuasai penguasa yang lalim dan kejam.Penguasa tersebut mendapatkan tahta melalui konspirasi kotor.
Raja yang berkuasa pada saat itu ialah Hawa Nafsu..Segala keinginannya harus dituruti dengan cara halal atau haram boleh-boleh saja.
Kemudian di bulan Ramadhan tahun lalu saya berhasil mendengar suara raja sejati yang saya cari-cari.Kamipun mulai berkenalan dan menyiapkan pertempuran.Setelah bertempur habis-habisan di bulan Ramadhan dan memenjarakannya selama sebulan penuh Jiwa pun menduduki kembali tahtanya yang sempat dirampas.
Namun sayangnya pada hari Idul Fitri, pada saat sang raja merayakan hari kemenangannya hawa nafsu melarikan diri dari penjara dan dinyatakan buron hingga kini.
Keberadaannya mulai terdeteksi oleh para intelijen kerajaan yang langsung melaporkan kepada sang raja.Hingga hari ini raja sering mengundang Maha Patih pikiran dan Menteri hati untuk menanggulangi bahaya laten hawa nafsu.Menurut sang raja,posisi Maha Patih dan Menteri rawan untuk disusupi oleh hawa nafsu dengan berbagai macam kedoknya.Terkadang hawa nafsu mengirim utusan untuk berkompromi dengan Kementrian Hati dan Kepatihan Pikiran namun utusan itu selalu ditolak oleh kementrian dan kepatihan.
Saat ini, perubahan pesat di kerajaan telah terjadi.Banyak hal yang berubah menjadi lebih baik berkat kerjasama yang apik antara raja jiwa,menteri hati,mahapatih pikiran,dan seluruh rakyat.Perintah-perintah sang raja kini murni hanya untuk mensejahterakan rakyatnya, tidak seperti hawa nafsu yang hanya mementingkan kesenangannya sendiri.Ketika hawa nafsu memerintahkan rakyat untuk berbuat buruk maka seluruh negeri menanggung akibatnya, penyakit berdatangan,stress berkepanjangan, dan sebagainya.
Berbeda dengan perintah raja jiwa yang membawa dampak positif seperti: negeri menjadi sehat, religius,dan teratur.
Hingga saat ini raja selalu menekankan pentingnya mewaspadai bahaya laten hawa nafsu.
Semoga di Ramadhan 1431 H nanti kerajaan kembali dapat memenjarakan hawa nafsu.
Demikianlah sedikit perumpamaan dari saya mengenai cara kita memimpin diri kita sendiri.Bukankah memimpin harus dimulai dari hal terkecil terlebih dahulu.
Mudah-mudahan tulisan ini bisa menginspiras teman-teman untuk mencari strategi yang tepat untuk memenjarakan hawa nafsu..
Terima Kasih banyak
Selamat memimpin dan selamat berjuang
Minggu, 10 Januari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar